Pino Bahari dan Realita Pahit Nasib Atlet Setelah Pensiun!
Lagi asyik scrolling hasil pertandingan bola atau cek jadwal livestream di Playkami, pernah nggak sih lo kepikiran, gimana nasib para pahlawan olahraga dan Atlet Nasional kita sepuluh atau dua puluh tahun setelah mereka turun dari podium? Kalau lo pikir jadi peraih emas setingkat Asian Games otomatis bikin hidup tajir melintir sampai tujuh turunan, lo salah besar. Nyatanya, realita di lapangan seringkali lebih keras daripada pukulan upper-cut Pino Bahari di atas ring.
Buat lo yang generasi milenial atau gen-Z, mungkin nama ini terdengar asing. Tapi di era 90-an, nama Pino Bahari adalah sinonim dari kebanggaan nasional. Dia adalah orang terakhir yang sanggup bawa pulang emas tinju buat Indonesia di Asian Games 1990 Beijing. Tapi lihat sekarang, sang legenda justru harus berjuang melawan biaya rumah sakit yang mencekik setelah mengalami kecelakaan motor tragis di Sanur, Bali.
Pino Bahari, Dari Ring Emas ke Realita yang Tidak Selalu Manis

Tiga dekade lalu, Pino adalah raja di kelas menengah 75 kg. Mengalahkan petinju tangguh Mongolia, Bandiin Altangerel, di final bukanlah perkara gampang. Saat itu, dia memutus puasa emas tinju Indonesia sejak era Wiem Gomies di tahun 70-an. Sayangnya, perjalanan menuju Olimpiade Atlanta 1996 harus kandas karena cedera saraf tulang belakang. Di situlah babak baru hidupnya dimulai: babak bertahan hidup.
Pernah kerja di perusahaan keamanan, jadi pelatih kelas dunia untuk Daud Yordan di tahun 2018, hingga akhirnya terpaksa jadi pengemudi ojek online demi dapur tetap ngepul. Miris? Banget. Tapi inilah potret nyata yang sering ditutup-tutupi oleh gegap gempita seremoni pemberian bonus atlet yang cuma sekali seumur hidup itu.
Kecelakaan yang Membuka Luka Lama Sistem Olahraga
Situasi Pino makin jadi perhatian setelah ia mengalami kecelakaan motor di Sanur pada 13 April 2026. Menurut laporan Bola.com, kecelakaan itu membuat empat tulang rusuk kiri dan kaki kirinya patah. Biaya operasi disebut mencapai sekitar Rp200 juta, meski sebagian besar masih ditanggung BPJS Kesehatan.
Di titik ini, masalahnya bukan cuma soal satu orang atlet yang sedang sakit.
Masalahnya lebih dalam: bagaimana kalau mantan atlet berprestasi mengalami krisis kesehatan, kehilangan pekerjaan, atau tidak lagi punya penghasilan tetap?
Apakah sistem langsung hadir?
Atau semuanya kembali ke simpati personal, donasi, dan keberuntungan?
Pino sendiri menyampaikan harapan agar ada regulasi atau undang-undang yang menjamin masa depan atlet. Ia menegaskan, jangan sampai atlet yang selesai membela negara justru kesulitan hidup setelah kariernya selesai. Laporan Suara Merdeka Bali pada 6 Mei 2026 juga menyoroti desakan Pino terkait regulasi dana pensiun atlet setelah rencana kunjungan Wamenpora batal terlaksana.
“Untungnya sebagian besar masih ditanggung BPJS Kesehatan,” ujar Pino saat ditemui tim media baru-baru ini. Tapi, apakah seorang peraih emas Asian Games layak cuma mengandalkan BPJS dan belas kasihan pribadi dari rekan sejawat tanpa ada sistem yang memayungi secara institusional?
Pino Bahari Desak Regulasi Kesejahteraan Atlet

Masalah utama yang disoroti Pino bukan cuma soal dirinya sendiri. Dia nggak minta dikasihani, dia minta keadilan sistemik. Lewat kondisinya sekarang, dia mendesak pemerintah untuk segera membuat regulasi yang jelas soal kesejahteraan atlet setelah pensiun.
Menurut Pino, perhatian yang dia terima dari Wamenpora Taufik Hidayat baru-baru ini memang sangat berarti secara personal, tapi itu bukan solusi jangka panjang. “Saya bersyukur beliau masih ingat. Tapi memang itu masih secara pribadi, belum atas nama pemerintah,” tegasnya.
Berikut adalah poin-poin utama yang diperjuangkan oleh Pino Bahari demi masa depan olahraga Indonesia:
- Undang-Undang Perlindungan Masa Depan: Perlu ada payung hukum yang mewajibkan negara menjamin kehidupan layak bagi atlet yang sudah mengharumkan nama bangsa.
- Regulasi Dana Pensiun: Atlet bukan PNS yang punya pensiunan tiap bulan. Harus ada skema tabungan atau dana pensiun khusus yang dikelola profesional untuk atlet berprestasi.
- Jaminan Kesehatan Pasca-Karir: Banyak atlet pensiun membawa cedera permanen. Negara harus hadir menjamin perawatan medis mereka hingga hari tua.
- Rasa Aman bagi Orang Tua: Jika masa tua atlet terjamin, para orang tua nggak akan ragu mendukung anak-anaknya fokus di dunia olahraga sejak dini.
Mengapa Kita Harus Peduli?
Mungkin lo nanya, “Gue kan cuma penikmat olahraga di Playkami Sport, apa hubungannya sama gue?” Hubungannya jelas, kawan. Kualitas olahraga kita nggak akan maju kalau karier atlet dianggap sebagai jalan menuju kemiskinan di masa tua. Siapa yang mau jadi petinju kalau ujung-ujungnya harus kesulitan biaya operasi saat kecelakaan?
Berdasarkan data dari Indonesian Athlete Institute, banyak mantan atlet nasional yang terjerumus dalam masalah finansial karena kurangnya literasi keuangan dan ketiadaan jaminan dari pemerintah. Ini adalah lubang besar dalam sistem olahraga kita yang harus segera ditambal.
Belajar dari Negara Tetangga
Kalau kita intip negara-negara maju, atau bahkan sesama negara Asia seperti Korea Selatan, mereka punya sistem “Pension for Olympians” yang sangat tertata. Atlet yang meraih medali di kancah internasional mendapatkan tunjangan bulanan yang cukup untuk hidup layak tanpa harus mencari pekerjaan sampingan yang menguras fisik di hari tua.
Di Indonesia? Kita masih terjebak di pola “kasih bonus besar di depan, lalu lupakan”. Padahal, manajemen finansial di usia muda bagi atlet itu sulit, apalagi jika mereka tidak memiliki bekal pendidikan yang cukup karena fokus latihan sejak kecil.
Saatnya Kita Bersuara
Pino Bahari adalah pengingat keras bagi kita semua. Prestasi di masa lalu tidak otomatis menjadi jaminan kenyamanan di masa depan. Sebagai pecinta olahraga, kita nggak cuma bisa menuntut mereka menang, tapi kita juga harus mendukung gerakan yang menuntut kesejahteraan mereka.
Kunjungi terus Website Playkami untuk update berita olahraga terbaru, analisis mendalam, dan tentu saja dukung terus pahlawan olahraga kita agar mendapatkan hak yang pantas mereka terima.
Menurut lo, apakah pemerintah sudah cukup peduli dengan nasib mantan atlet? Atau emang sudah saatnya undang-undang dana pensiun atlet disahkan secepatnya? Kasih pendapat lo di kolom komentar dan bagikan artikel ini biar makin banyak yang melek soal realita kehidupan atlet kita!
