Gregoria Mariska Tunjung Resmi Mundur dari Pelatnas PBSI!
Buat pecinta bulutangkis Indonesia, nama Gregoria Mariska Tunjung jelas bukan nama asing. Dalam beberapa tahun terakhir, dia jadi salah satu tumpuan tunggal putri Indonesia di tengah persaingan badminton dunia yang makin brutal. Makanya, kabar Gregoria Mariska mundur dari Pelatnas PBSI langsung bikin timeline olahraga ramai.
Banyak fans awalnya ngira ini cuma rumor biasa. Tapi Jumat (15/5), PP PBSI resmi mengumumkan bahwa Gregoria memang mengajukan surat pengunduran diri dari pelatnas setelah lebih dari satu dekade jadi bagian penting Merah Putih.
Buat lo yang ngikutin perkembangan badminton nasional di Website Playkami, keputusan ini jelas terasa emosional. Apalagi Gregoria bukan cuma atlet biasa, tapi simbol perjuangan tunggal putri Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Gregoria Mariska Resmi Tinggalkan Pelatnas PBSI

Keputusan Gregoria ternyata bukan keputusan mendadak. PBSI menjelaskan bahwa pebulu tangkis asal Wonogiri tersebut sudah berdiskusi cukup panjang dengan Kabid Binpres PBSI, Eng Hian, serta pelatih tunggal putri utama, Imam Tohari.
Dalam surat pengunduran dirinya, Gregoria menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh jajaran pelatih dan pengurus PBSI atas perjalanan panjang selama 12 tahun di Pelatnas Cipayung.
Kalau dipikir-pikir, 12 tahun itu bukan waktu sebentar.
Bayangin aja, sebagian besar hidup seorang atlet habis di pelatnas. Latihan pagi, recovery malam, tekanan turnamen internasional, sampai ekspektasi netizen yang kadang nggak manusiawi. Jadi ketika seorang atlet akhirnya memutuskan berhenti, biasanya ada alasan besar di baliknya.
Kesehatan Jadi Faktor Utama
Nah, alasan terbesar Gregoria Mariska mundur ternyata terkait kondisi kesehatan yang belum benar-benar pulih.
PBSI mengungkapkan bahwa Gregoria masih berjuang melawan vertigo yang sudah cukup lama mengganggu performanya. Sampai sekarang, kondisinya disebut belum sepenuhnya pulih dan membuat dirinya belum percaya diri untuk kembali bertanding di level kompetitif.
Buat atlet profesional, vertigo jelas bukan masalah kecil.
Dalam olahraga secepat badminton, keseimbangan tubuh dan fokus adalah segalanya. Sedikit gangguan saja bisa bikin timing pukulan berantakan. Bahkan salah langkah kecil bisa berujung cedera serius.
Menurut penjelasan dari organisasi kesehatan dunia World Health Organization, gangguan vertigo memang dapat memengaruhi keseimbangan, koordinasi, hingga aktivitas fisik berat. Sementara itu, Badminton World Federation beberapa kali juga menyoroti pentingnya kesehatan mental dan fisik atlet di level elite.
Jadi wajar kalau Gregoria memilih fokus pemulihan dibanding memaksakan diri terus bermain.
Terakhir Tampil di SEA Games 2025
Playkami mencatat, terakhir kali Gregoria Mariska tampil membela Indonesia adalah pada ajang SEA Games 2025 di Thailand.
Sejak saat itu, namanya memang cukup lama absen dari berbagai turnamen internasional. Banyak fans mulai bertanya-tanya soal kondisinya, apalagi sektor tunggal putri Indonesia terasa kehilangan sosok pemimpin di lapangan.
Dan jujur aja, tekanan jadi atlet nasional itu nggak gampang.
Kadang penonton cuma lihat hasil akhir. Menang dipuji, kalah dihujat. Padahal di balik layar, atlet harus bertarung lawan cedera, mental, jadwal padat, sampai rasa capek yang terus numpuk.
Gregoria mungkin salah satu contoh nyata bahwa kesehatan tetap harus jadi prioritas utama.
PBSI Beri Apresiasi Tinggi untuk Gregoria Mariska

Meski harus berpisah, PBSI tetap memberikan penghormatan tinggi untuk Gregoria.
Eng Hian menyebut Gregoria sebagai atlet yang sudah memberikan banyak kebanggaan untuk Indonesia. PBSI juga menghormati keputusan tersebut dan berharap Gregoria bisa segera pulih sepenuhnya.
Pernyataan resmi PBSI juga menegaskan bahwa dedikasi dan profesionalisme Gregoria menjadi inspirasi bagi generasi muda bulutangkis Indonesia.
Dan memang sulit membantah itu.
Di era ketika sektor tunggal putri Indonesia sempat kehilangan konsistensi, Gregoria hadir sebagai salah satu pemain yang mampu bersaing di level dunia.
Prestasi Gregoria Mariska yang Sulit Dilupakan
Kalau ngomongin perjalanan karier Gregoria Mariska, ada banyak momen besar yang bikin fans badminton Indonesia bangga.
Beberapa pencapaian terbaiknya antara lain:
- Medali perunggu Olimpiade Paris 2024
- Juara Spain Masters 2025
- Juara Japan Masters 2023
- Juara Dunia Junior BWF 2017
- Langganan wakil Indonesia di turnamen Super Series dan BWF World Tour
Prestasi Juara Dunia Junior 2017 bahkan jadi sejarah penting. Gregoria menjadi tunggal putri Indonesia pertama sejak 1992 yang berhasil meraih gelar tersebut.
Itu bukan pencapaian kecil.
Karena sektor tunggal putri Indonesia selama bertahun-tahun memang kesulitan menembus dominasi negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, dan Thailand.
Makanya ketika Gregoria berhasil muncul dan konsisten di ranking dunia, ekspektasi publik langsung naik tinggi.
Dampak Mundurnya Gregoria untuk Tunggal Putri Indonesia
Pertanyaan berikutnya tentu muncul: siapa penerus Gregoria Mariska?
Ini yang sekarang jadi PR besar buat PBSI.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang masih mencari sosok tunggal putri yang benar-benar stabil di level elite dunia. Talenta muda ada, tapi pengalaman dan mental tanding seperti Gregoria jelas nggak bisa dibangun dalam semalam.
Beberapa nama muda memang mulai bermunculan, tapi tantangan mereka berat banget:
- Konsistensi Turnamen
Banyak pemain muda bagus di awal, tapi kesulitan menjaga performa sepanjang musim.
- Mental di Turnamen Besar
Main di level junior dan senior jelas beda atmosfer. Tekanan Olimpiade atau World Tour level tinggi bisa bikin pemain drop.
- Fisik dan Recovery
Kalender badminton sekarang padat banget. Recovery jadi faktor penting supaya pemain nggak gampang cedera.
Di tengah situasi itu, absennya Gregoria jelas meninggalkan lubang besar di sektor tunggal putri Indonesia.
Atlet Bukan Mesin
Satu hal yang sering dilupakan fans olahraga adalah: atlet juga manusia.
Kadang publik terlalu fokus pada medali sampai lupa bahwa atlet punya batas fisik dan mental. Mereka bisa capek, sakit, bahkan kehilangan rasa percaya diri setelah cedera panjang.
Kasus Gregoria Mariska jadi pengingat penting soal itu.
Apalagi vertigo bukan kondisi yang bisa sembuh instan. Banyak penderita bahkan mengalami gangguan keseimbangan dalam waktu lama.
Makanya keputusan Gregoria buat mundur sebenarnya bisa dipahami sebagai langkah realistis dan dewasa.
Daripada memaksakan comeback lalu kondisi makin parah, fokus pemulihan justru bisa jadi keputusan terbaik untuk masa depannya.
Dukungan Dari Fans Untuk Gregoria Mengalir Deras

Sejak pengumuman resmi PBSI keluar, media sosial langsung dipenuhi dukungan untuk Gregoria Mariska.
Banyak fans mengucapkan terima kasih atas perjuangannya selama membela Indonesia. Ada juga yang berharap Gregoria suatu saat tetap bisa kembali ke dunia badminton, entah sebagai pelatih, mentor, atau figur inspiratif buat atlet muda.
Di dunia olahraga, nggak semua perpisahan harus diakhiri dengan drama.
Kadang keputusan paling berat justru lahir dari kesadaran bahwa tubuh sudah butuh istirahat.
Dan Gregoria tampaknya memilih jalan itu.
Gregoria Mariska Sudah Tinggalkan Warisan Besar
Terlepas dari keputusan mundur ini, nama Gregoria Mariska tetap akan dikenang sebagai salah satu tunggal putri terbaik Indonesia di era modern.
Dia berhasil membuktikan bahwa atlet Indonesia tetap bisa bersaing di level tertinggi dunia lewat kerja keras, disiplin, dan mental kuat.
Buat lo yang ngikutin perkembangan badminton nasional bersama Playkami Sports, kisah Gregoria juga jadi reminder bahwa perjalanan atlet nggak selalu soal kemenangan. Kadang perjuangan terbesar justru terjadi saat mereka harus memilih antara mimpi dan kesehatan.
Sekarang, fans tinggal berharap satu hal: semoga Gregoria bisa pulih total dan menemukan kebahagiaan di fase hidup berikutnya.
